Cherry

dianwicaksono

Dian Wicaksono – Cherry, sebuah cerpen anak karya Opsi Rizky Andaru yang sangat menarik untuk dibaca.

Senja menyapa penuh kelembutan. Kumenanti sahabat terindah yang pernah kumiliki. Sahabat dengan senyumnya yang manis dan menyejukkan hati. Dia selalu memakai baju yang sama dan rambutnya selalu dikuncir bak ekor kuda. Dia tidak memiliki nama, maka kuberi nama dia, Cherry. Dia selalu mengunjungiku menjelang senja dan tetap menemaniku hingga aku larut dalam mimpi.

Cherry datang kembali di depanku saat ini, aku tersenyum menyambutnya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, dia akan selalu menemaniku. Di saat anak-anak lain takut gelap, aku sama sekali tidak merasakannya. Cherry selalu menemaniku walau dalam gelap sekalipun.

Wuuuuuussss….

Angin berhembus ringan setiap kali Cherry datang.

“Hai, Chika.” Sapa Cherry.

“Hai, Cherry, aku sedang mengerjakan tugas yang super banyak nih. Padahal aku sudah coba kerjakan dari tadi siang. Tapi sampai sore masih saja belum selesai.” Keluhku pada Cherry.

Rasanya ketika aku berkeluh kesah pada Cherry, bebanku berkurang dan aku semakin bersemangat menyelesaikan persoalan yang kuhadapi. Aku selalu menceritakan semua yang kualami baik suka maupun duka. Aku mengenal Cherry sejak berumur 5 tahun, 6 tahun sudah aku bersahabat dengannya. Tapi aku benar-benar heran, wajah Cherry seolah-olah tidak pernah berubah. Tubuhnya pun tidak terlihat berbeda sejak pertama kali aku mengenalnya. Cherry masih sama seperti seusiaku saat ini. Apapun itu, dia tetaplah sahabatku, temanku saat bermain dan melalui hari-hari dengan bahagia.

Setiap aku berbicara dengan Cherry, orang-orang di sekitarku menatap heran. Apakah aku terkesan aneh? Sering kutanyakan ini pada Cherry dan dia hanya tersenyum. Mulai saat itu aku tidak mempedulikan tanggapan orang lain melihat sikapku yang sedang asyik mengobrol  dengan Cherry.

“Memangnya kamu sedang mengerjakan tugas apa saja, Chika?” tanya Cherry heran.

“Ini, aku harus membuat laporan pengamatan pertumbuhan tanaman kacang hijau yang aku tanam 2 minggu lalu. Harus lengkap, semua perkembangannya diceritakan.”

“Semangat dong, Chika. Aku lihat tinggal sedikit lagi, apa ada yang bisa aku bantu?”

“Eeuummm … rasanya aku butuh buku IPA di rak itu. Bisakah kamu membantuku mengambilnya, Cher?”

Oke, wait.”

Whuuuussssshhhh … Plukkkk!

Buku IPA yang aku maksud terbang melesat dengan cepat dan terjatuh tepat di depanku. Satu lagi kehebatan Cherry yang aku ketahui dari dulu. Cherry mampu menerbangkan benda-benda. Aku tidak akan memusingkannya selama Cherry tidak berbuat hal yang lebih aneh dari ini.

Thank you, Cher. Kamu benar, tugasku sudah hampir selesai. Habis ini temani aku ngobrol ya, Cher.”

“Oke, kelihatannya ayah dan ibumu tidak ada di rumah. Mereka pergi ke mana Chika?”

“Mereka pergi ke rumah nenek. Mungkin pulangnya agak larut. Aku sengaja tidak ikut karena ada tugas yang harus selesai hari ini. Lagian ada Cherry maka aku tidak sendirian di rumah. Hehehe …”

Kami pun tertawa bersama. Akhirnya tugasku telah usai. Kami ngobrol banyak hal di kamarku. Tanpa terasa jam dinding kamarku menunjukkan pukul 21.00. Ayah dan ibuku belum pulang. Aku telah mengunci semua pintu dan jendela. Kamarku ada di lantai 2 jadi ketika ada tamu pasti terlihat dari jendela kamarku.

“Huuuuussstttt … Chika, kamu diam sebentar ya.” Tiba-tiba Cherry menyuruhku diam. Wajahnya tiba-tiba berubah serius dan membuatku sedikit bergidik ngeri.

“Ada apa Cherry?” aku tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranku.

“Kira-kira 10 menit mulai dari sekarang akan ada orang jahat masuk ke rumah ini. Ayo kita bersiap-siap. Kamu turuti apa yang aku perintahkan!”

“Apa? Baiklah Cherry, aku akan menuruti perintahmu.”

Aku masih bingung, bagaimana bisa Cherry memprediksi kejadian yang belum terjadi?

“Sekarang kamu aktifkan CCTV yang ada di kamar utama. Siapkan handphone mu untuk menghubungi polisi. Lalu kamu juga ambil foto orang jahat itu dari kamar ini. Setelah itu kita akan bersembunyi di tempat persembunyian kita.”

Cherry memberiku perintah dengan jelas. Aku mengaktifkan CCTV yang ada di kamar utama yaitu kamar ayah dan ibu. CCTV itu langsung terhubung di handphone ku dan langsung bisa direkam. Aku bergerak sangat cepat karena mengingat waktu yang tersisa hanya tinggal beberapa menit lagi. Aku segera masuk ke kamarku di lantai 2 dan bersiap mengambil foto kedua perampok itu.

Benar saja, ada 2 orang berbaju hitam, memakai penutup kepala dan masker hitam terlihat mencoba membuka pintu depan. Sebelumnya mereka berhasil melompati pintu gerbang. Dengan penuh hati-hati aku mengambil foto kedua perampok. Jantungku berdetak tak karuan. Aku takut mereka akan menangkapku dan menyekapku seperti yang ada di film-film. Eeiiiitttssss … ini nyata!!!

“Chika, kamu sekarang telepon polisi. carilah nomor kantor polisi secepatnya!”

“Baiklah, Cherry!”

Aku segera browsing dan menemukan nomor kantor polisi terdekat. Segera kuhubungi nomor itu. Di saat bersamaan, terdengar bunyi alat yang digunakan kedua perampok itu untuk masuk melalui pintu utama.

“Halo, pak polisi, saya ingin melaporkan bahwa di rumah saya kedatangan 2 perampok dan sekarang kedua perampok itu berusaha masuk ke rumah saya, pak.” Aku segera menjelaskan masalahnya kepada pak  polisi.

“Maaf ya dek, bapak minta kamu jangan main-main dengan menghubungi polisi. jangan berbohong ya, dek.” Sahut pak polisi di seberang telepon.

What? Mengapa pak polisi mengatakan bahwa aku sedang mengarang cerita dan berbohong? Ini tidak benar! Aku harus membuktikannya.

“Kalau bapak tidak percaya akan saya kirim fotonya sekarang juga. Tolong bantu saya pak! Datanglah ke rumah saya di perumahan mutiara nomor 10! Saya mohon bantuannya pak.”

“Baiklah dek, kami akan segera datang ke sana. Kirimkan foto kedua perampok itu pada nomor 081xxx. Sementara kamu bersembunyi di tempat yang aman sekarang!”

“Baik, pak.”

Akhirnya pak polisi 100% percaya setelah aku mengirimkan foto kedua perampok itu.

“Cherry, setelah ini apa yang harus kita lakukan? Seperti yang kamu ceritakan tadi, 2 perampok itu masuk ke kamar ayah dan ibu.” Tanyaku pada Cherry.

Aku melihat 2 perampok itu dari tayangan CCTV. Kedua perampok itu mulai mengambil barang-barang berharga yang ada di kamar ayah dan ibu. Aku tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga itu. Semua barang berharga tersimpan di lemari sehingga aku tidak sempat mengambilnya. Di layar HP ku terlihat mereka mengambil semua perhiasan dan uang tunai yang ada di lemari. Jam tangan milik ayah dan ibuku juga tidak luput dari jangkauan mereka.

“Kamu tenang saja Chika, kamu harus bersikap tenang. Setelah ini mereka akan naik ke lantai atas. Kamu bersembunyilah di tempat persembunyian kita. Setelah 2 perampok itu masuk ke kamar ini, kamu kunci dari luar dan kamu harus lari sekencang mungkin keluar rumah dan minta tolonglah pada tetangga.”

“Baiklah, Cherry.”

Aku mencoba mencerna setiap perkataan Cherry. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku selalu mengamati layar handphone ku dan mengamati pergerakan kedua perampok itu. Cherry menyuruhku bersembunyi di tempat persembunyian kami. Tempat persembunyian kami ada di pojok lantai 2, di dekat kamarku. Tempatnya tidak luas dan sering kugunakan untuk menggambar dan mengobrol dengan Cherry.

Suara langkah kedua perampok itu mulai terdengar menaiki anak tangga. Semakin lama semakin terdengar jelas. Aku langsung menuju tempat persembunyian. Cherry terlihat masih ada di dalam kamarku. Aku mengintip dari celah-celah pintu. Kedua perampok itu mulai masuk ke dalam kamarku.

“Bos, apa di kamar ini akan ada barang berharga?” terdengar salah satu perampok bertanya pada temannya.

“Pasti, paling tidak ada laptop yang bisa kita sikat. Kita ambil barang-barang yang gampang dibawa. Kelihatannya penghuni rumah ini sedang pergi. Kita aman.” Jelas perampok yang dipanggil bos.

“Siap, bos!”

Kedua perampok itu telah masuk ke dalam kamarku, aku pun keluar dari tempat persembunyian dan berniat mengunci pintu kamarku.

Saat aku mencapai pintu kamar, aku mengintip ke dalam kamar. Aku sangat khawatir pada Cherry yang masih ada di dalam kamar. Seketika jantungku terasa mau copot ketika kulihat Cherry berubah wujud menjadi makhluk yang sangat mengerikan. Tubuhnya membesar dan tingginya mencapai langit-langit kamar. Matanya merah menyala, rambutnya memanjang sampai ke lantai kamarku, dan Cherry terlihat memiliki kuku dan taring yang tajam.

Aku dan kedua perampok itu menatap ke arah yang sama, yaitu Cherry. Kakiku mundur beberapa langkah hingga bersandar pada tembok. Seketika tubuhku terasa kaku. Kedua perampok itu juga terlihat begitu takut dan ingin kabur.

“Keluar dari rumah ini! Atau kalian akan aku lukai dengan taring dan kuku yang tajam ini.” Ancam Cherry pada kedua perampok itu.

“Huaaaaaaaa!!!!! Bos, ayo kita keluar, a-adaa setaaaannnn!!!!” kata salah satu perampok itu ketakutan.

Kedua perampok itu segera berlari keluar rumah dan tidak mempedulikan keberadaanku. Mereka begitu ketakutan hingga berlari sambil berteriak.

Sesaat setelah perampok itu meninggalkan kamarku, Cherry berubah menjadi bentuk semula. Aku tidak lagi takut. Aku akan menunggu Cherry untuk menjelaskan semuanya.

“Chika, nanti akan aku jelaskan semuanya.” Janji Cherry padaku.

“Baiklah, Cherry.”

Aku segera berlari keluar rumah karena aku dengar ada sirine mobil polisi. di depan rumahku ada beberapa orang polisi yang sedang menangkap kedua perampok itu. Sepertinya ketika mereka keluar rumah bertepatan dengan kedatangan polisi. Ada 2 orang polisi yang datang menghampiriku.

“Selamat malam, dek.” Sapa salah satu polisi itu.

“Selamat malam, pak polisi.” sahutku

“Saya Pak Priyo, polisi yang tadi adek telepon dan sebelah saya adalah Pak Heru. Beberapa rekan kami sudah menangkap kedua perampok yang keluar dari rumah ini. Mereka membawa beberapa barang yang mereka bawa dari dalam rumah. Mereka terlihat sangat ketakutan. Apakah adek terluka?”

“Saya tidak terluka pak, mungkin mereka ketakutan karena saya takut-takuti dengan bayangan seperti hantu pak.” Jawabku sekenanya. Aku tidak mungkin menceritakan bahwa kedua perampok itu takut pada sosok Cherry.

“Wah, adek hebat sekali mampu menakut-nakuti kedua perampok itu. Siapa nama adek?”

“Nama saya Chika, pak.”

“Di mana orang tua dek Chika?”

Bertepatan saat aku akan menjawab pertanyaan, mobil ayah dan ibuku terlihat berhenti di depan rumah. Ayah dan ibuku terlihat sangat kaget dengan kejadian malam ini. Beberapa polisi yang masih berada di rumahku menjelaskan kejadian malam ini pada ayah dan ibuku. Ibuku langsung menangis dan memelukku. Mereka menyesal telah pergi meninggalkan aku sendiri. Aku berkali-kali menyampaikan pada ayah dan ibu bahwa aku baik-baik saja. Polisi akan datang lagi besok untuk meminta keterangan lebih lanjut.

Aku teringat pada Cherry, aku harap dia masih ada di kamarku. Aku segera masuk ke kamar. Cherry masih duduk manis dan tersenyum padaku.

“Chika, maafkan aku yang telah membuatku terkejut.” Cherry terlihat sangat sedih menatapku.

“Cher, kamu tidak perlu meminta maaf. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu karena kamu sudah menolongku. Apa jadinya aku kalau kamu nggak ada, Cher.” Aku mulai meneteskan air mata.

“Chika, kamu sekarang pasti sudah menyadari bahwa kita berbeda. Kamu adalah manusia sedangkan aku bukan. Tubuhku tetap sama meskipun kita sudah bersahabat selama 6 tahun. Aku tahu pasti kamu terkejut melihat aku berwujud lain dan sangat mengerikan. Chika, setelah malam ini kita tidak bisa bertemu lagi.”

“Apa? Kenapa kita tidak bisa bertemu lagi?” Aku kaget dan langsung memotong perkataan Cherry.

“Aku menemanimu sampai di sini. Ketika aku menggunakan kemampuanku untuk mengubah wujudku dan menolongmu, maka tugasku untuk menemanimu telah selesai. Chika, jadilah gadis yang kuat dan pemberani. Kalaupun saat gelap kamu tidak bersamaku lagi, kamu harus berani. Aku akan selalu di hati mu walaupun kamu tidak bisa melihatku lagi.”

“Tidak Cherry, kenapa harus begini? Hiks … hiks … hiks …” Aku menangis.

“Berjanjilah Chika, tetaplah berbahagia dan carilah sahabat yang bisa bersamamu dalam suka dan duka.”

Tangisanku semakin keras hingga terdengar oleh ibu.

“Ada apa sayang? Mengapa Chika menangis seperti ini?” tanya ibu saat masuk kamar. Ibu langsung memelukku erat.

“I-ibu, sahabatku Cherry akan pergi. Kami tidak bisa bertemu lagi.”

Ibu tampak heran dan sedikit terkejut. Aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak lagi pada ibuku. Hatiku sangat sakit. Tak kusangka ibuku hanya memeluk dan tidak bertanya lagi. Ibu terus memelukku dan mengusap kepalaku. Rasanya sangat nyaman. Cherry beranjak dan berjalan menuju jendela kamarku. Dia tersenyum sangat manis. Cherry sahabatku melambaikan tangan dan menatapku. Senyumnya tetap mengembang walau tubuhnya terlihat semakin samar dan lama-lama menghilang. Aku menangis semakin keras dan merajuk pada ibuku.

“Ibuuuu … Cherry sudah pergi, bu! Cherry pergi…” teriakku.

“Sayang, menangislah malam ini, ibu akan menemanimu. Berbahagialah untuk besok dan selanjutnya. Ibu yakin, Cherry ingin Chika bahagia. Cherry akan selalu ada di hati Chika.”

Aku menangis sesenggukan. Aku membenarkan nasihat ibuku. Tangisanku mulai mereda, rasanya begitu lelah dan mengantuk. Aku berharap esok akan lebih baik. Kini Cherry telah menghilang, tapi tidak dengan kenanganku bersamanya. Semoga Cherry juga bahagia di manapun dia berada.

Cherry, sahabatku, dia ada tapi tiada ….

Demikian cerpen anak berjudul cherry yang ditulis oleh  Opsi Rizky Andaru. Semoga cerpen anak cherry dapat memberi inspirasi dan manfaat untuk sahabat semua.

Mari berbagi ilmu, mari berbagi manfaat.

Satu pemikiran pada “Cherry”

Tinggalkan komentar