Dinda dan Sepatu Butut

dianwicaksono

Dian Wicaksono – Dinda dan Sepatu Butut, sebuah cerpen anak karya Opsi Rizky Andaru yang sangat menarik untuk dibaca.

Namanya Adinda Putri Permata, nama yang indah walau tak seindah nasibnya. Dinda nama panggilannya. Dinda gadis ayu nan ceria mempunyai banyak teman di desanya. Ya, Dinda tinggal di sebuah desa di kaki Gunung Slamet yang masih asri dan mempesona. Siapa sangka, Dinda harus menjalani hidup yang cukup keras demi keluarganya.

Dinda, gadis yang selalu ceria walaupun harus belajar dan bekerja di hari yang sama. Ayahnya, Pak Supri, bekerja sebagai tukang “nderes” (orang yang mengambil nira pohon kelapa). Kini ayahnya lumpuh karena terjatuh dari pohon kelapa setinggi 15 meter. Ibunya, Ibu Sumi, bekerja sebagai buruh tani. Adiknya masih kecil, 5 tahun umurnya. Alhasil Dinda harus ikut bekerja agar keluarga mereka bisa merasakan nasi setiap hari.

Nama Dinda adalah pemberian bidan desa yang menolong ibunya saat melahirkan. Bidan desa itu berharap muncul permata di desanya yang tentu saja akan mengharumkan nama desanya tercinta.

Kini Dinda telah duduk di kelas 5 sekolah dasar. Dinda gadis cerdas yang selalu bersemangat. Setiap pagi sebelum kerbau pak RT dibawa ke sawah, Dinda sudah berjalan kaki menuju sekolahnya. Sekolah Dinda cukup jauh, hampir 5km.

Pagi yang berkabut, sudah siap Dinda sambut dengan sepatu bututnya. Teman-teman sekampungnya belum ada yang menampakkan batang hidung mereka. Tentu saja mereka agak santai karena setiap hari orang tua mereka akan mengantar dengan sepeda motor. Apa lantas Dinda patut bersedih? Tentu saja tidak. Dinda menikmati hidupnya.

“Bapak, ibu, Dinda berangkat sekolah dulu ya?” pamit Dinda pada kedua orang tuanya. Dinda mencium tangan kedua orang tuanya dengan hikmat. Dinda selalu berprinsip, ada doa tulus yang selalu bapak dan ibunya panjatkan untuk Dinda.

“Iya, nak. Nanti ibu akan membantu menggarap kebun pak Kades, jadi nanti sepulang sekolah bantu ibu menjaga adikmu, ya?”

“Baik, bu.”

Dinda bersiap berangkat dan mencium kening adiknya terlebih dahulu. Dia berjalan sambil bersenandung. Dinda melewati kandang sapi dan menyapa peternak sapi yang sedang memerah sapi mereka. Keramahan Dinda disambut baik oleh warga desa. Di balik senyumnya, ada setumpuk tanggung jawab yang harus dia pikul setiap hari.

Jarak yang cukup jauh memaksa Dinda untuk melangkahkan kakinya lebih cepat. Bahkan jika Dinda berangkat agak kesiangan, dia harus rela berlari sekencang mungkin seperti cheetah. Dinda berlari dengan gesit. Jarang sekali dia jatuh karena sudah sangat hafal dengan medan yang dilaluinya setiap hari. Dinda dengan kaki cheetahnya tidak pernah datang terlambat ke sekolah.

Pagi yang cerah ini diawali dengan pelajaran olahraga. Semua siswa kelas 5 telah siap menggunakan seragam olahraga, termasuk Dinda.

“Heii … lihat, Dinda si Sepatu Butut ikut olah raga!” Seru Meli saat melihat Dinda menuju lapangan. Tentu saja Meli berani meneriaki Dinda demikian, Pak Amin masih bersiap-siap di depan ruang guru dan pasti tidak akan mendengarkan teriakan Meli.

“Heh, Dinda, kamu berani ikut olahraga? Nanti kalau sepatu bututmu hancur bagaimana? Hahhahahaha …” Ucap Loli dengan tatapan mengejek.

“Iya, Dinda, jangan membuat malu sekolah kita dong! Masa ada murid sekolah kita yang sepatunya butut?” seloroh Sherly.

Ketiga orang itu memang sangat membenci Dinda. Setiap hari akan selalu ada perkataan mengejek yang ditujukan untuk Dinda. Sayangnya, Dinda tidak pernah menanggapi ocehan mereka. Teman-teman yang lain juga kurang suka dengan ketiga gadis itu. Mereka terlihat sombong dan merendahkan orang lain.

Setelah Pak Amin menyiapkan siswanya, beliau memberikan pengumuman tentang Kompetisi Olahraga Siswa Nasional (KOSN).

“Anak-anak, untuk KOSN yang akan dilaksanakan besok, bapak akan tetapkan nama-nama siswa yang akan mewakili sekolah.” Pak Amin mulai membacakan satu per satu nama yang akan mewakili sekolah mengikuti KOSN.

Nama Dinda masuk sebagai perwakilan sekolah. Teman-temannya bertepuk tangan dan memberikan semangat, kecuali ketiga gadis itu. Meli terlihat sangat kesal karena sesungguhnya Meli ingin dipilih oleh Pak Amin mewakili sekolahnya. Meli sengaja membeli sepatu baru untuk mengikuti lomba. Ternyata malah Dinda yang dipilih. Dinda mewakili sekolah dalam cabang lari jarak pendek (sprint).

“Pak Guru, sebaiknya Dinda jangan mengikuti lomba, nanti sekolah kita akan malu, pak. Sepatu Dinda kan sangat butut dan berlubang di sana sini.” Ucap Meli begitu menggebu-gebu.

“Meli, bapak memilih perwakilan sekolah tidak sembarangan lhoo … Kemarin kalian sudah berkali-kali latihan lari dan kenyataannya Dindalah yang selalu tercepat. Dinda, apakah kamu mau mengganti sepatumu, nanti sekolah yang akan membelikannya?” jelas Pak Amin.

“Terima kasih pak, saya belum membutuhkan sepatu baru. Sepatu ini masih bisa saya pakai.” Sanggah Dinda.

“Baiklah kalau seperti itu. Anak-anak, kalian semua boleh istirahat.”

Mereka segera membubarkan diri dan bersiap mengganti pakaian olahraga dengan seragam merah putih. Seusai berganti pakaian di kamar mandi, Dinda terus melamun sambil bergumam. Jalannya juga menjadi tidak fokus.

“ternyata sepatuku memang butut. Padahal sudah kubersihkan setiap hari. Aku tidak mau menggantinya sebelum benar-benar rusak karena ini pemberian bapak sebelum bapak sakit. “ Dinda bergumam dan sedikit menunduk.

Saat kakinya melangkah menuruni jalan setapak, tiba-tiba kaki Meli melintang di depan kaki Dinda yang menyebabkan Dinda jatuh berguling.

“Aaaaaarrrghhhh … tolooooonggg …” teriak Dinda.

Mendengar teriakan Dinda, Meli dan kedua pengikutnya segera kabur dan bersembunyi. Mereka tidak mau aksi mereka diketahui orang lain. Semenit kemudian datanglah Ridho yang menolong Dinda. Dia memapah Ridho sampai ke UKS. Petugas UKS menangani luka Dinda dengan baik. Kakinya memang berdarah akan tetapi masih bisa untuk berjalan.

Pak Amin mengumpulkan semua siswa kelas 5 dan menanyakan kejadian yang menimpa Dinda.

“Adakah di kelas ini yang bisa menjelaskan kejadian Dinda jatuh?” tanya Pak Amin.

Semua siswa diam karena saat itu mereka sedang berganti pakaian.

“Baiklah, akan bapak ubah pertanyaannya. Apakah ada yang ingin menyampaikan sesuatu atau mengakui sesuatu pada bapak? Karena barusan bapak menerima laporan yang aneh dari seseorang. Jika tidak ada yang mau berbicara atau mengaku, maka akan bapak sampaikan ke kepala sekolah” Lanjut Pak Amin.

“P-pak Amin, sebenarnya tadi yang menyebabkan Dinda jatuh adalah Meli. Kaki Dinda sengaja disandung oleh Meli, pak.” Kata Sherly.

Wajah Meli memerah menahan marah. Sherly takut terkena hukuman jika menyembunyikan kesalahan Meli. Akhirnya Meli mendapatkan bimbingan dari Pak Amin agar tidak mengulangi perbuatannya.

Dinda masih diberi kesempatan untuk mengikuti lomba karena bisa berlari dengan baik setelah beristirahat sejenak. Kaki Dinda sangat kuat karena setiap hari terlatih dengan menempuh jarak yang jauh. Dinda sangat senang hingga melupakan rasa sakitnya.

Sesampainya di rumah, Dinda membantu ibu menjaga adiknya di rumah sembari memisahkan biji jagung dari bonggolnya. Biji jagung itu biasanya untuk pakan ternak. Tetangganya sering meminta tolong Dinda karena dia sangat cepat mengerjakannya. Dinda mengerjakan tugas itu dengan upah yang cukup untuk membeli sekilo beras setiap harinya.

“Nak,  kakimu kenapa terluka?” tanya ayahnya yang sedang duduk.

“Tadi jatuh di sekolah, pak.”

“Bukankah besok Dinda akan ikut lomba? Apa bisa?”

“Bapak tenang saja, putri bapak adalah anak yang kuat.” Dinda tersenyum pada bapaknya. Senyuman penuh ikhlas yang membuat hati orang tuanya hangat.

“Dinda, bapak minta maaf karena belum bisa memenuhi kebutuhan Dinda. Sepatumu sudah rusak, nak.”

“Bapak, Dinda harus menghargai benda yang Dinda miliki, selama masih bisa dipakai, maka akan Dinda pakai. Dinda kan belajar dari bapak.”

“Semoga Dinda menjadi anak yang sukses ya.”

“Aamiin … terima kasih bapak. Semoga bapak pulih dan bisa beraktivitas seperti dahulu. Bapak jangan menyerah ya. Dinda akan selalu membantu bapak.”

“Terima kasih, nak.”

“Sama-sama, pak.”

Sore hari ibu pulang dan membawa ikan gurameh. Bu Sobri, tetangga mereka memberikannnya karena kolam ikannya sedang dipanen. Mereka sangat beruntung karena malam ini bisa makan enak dan bergizi. Tak henti-hentinya mereka bersyukur atas nikmat yang mereka peroleh hari ini.

Begitulah kehidupan sehari-hari Dinda. Sepulang sekolah bukan berarti Dinda bisa bermain-main dengan teman-temannya. Saat siang, dia akan bekerja membantu perekonomian keluarga. Sedangkan sore, dia akan mengaji dan mengajak adiknya ke mushola. Dinda tidak pernah minder sehingga dia selalu tersenyum ceria ketika berhadapan dengan orang lain. Itulah yang menyebabkan Dinda sangat disenangi oleh orang-orang di desanya.

Ayam jago berkokok merdu sekali. Setelah menunaikan sholat subuh, Dinda bersiap-siap ke sekolah untuk mengikuti lomba. Dinda membantu ibu menyiapkan sarapan sederhana. Menu sarapan kali ini adalah tempe goreng dan nasi. Bagi Dinda semua itu sudah cukup. Tidak harus mewah, yang penting Dinda tidak pernah melewatkan sarapannya agar selalu sehat.

Setelah berpamitan, Dinda kembali berjalan kaki menuju sekolahnya. Dia melangkah penuh semangat. Ujung bibirnya tertarik ke atas sehingga membentuk senyuman manis. Dinda masih ditemani sepatu bututnya. Walau berlubang, sol sepatunya masih cukup kuat menopang tubuh Dinda. Kini tidak ada lagi yang mengatai sepatu Dinda. Teman-teman Dinda telah diberi bimbingan oleh guru kelas. Mereka telah belajar untuk menghargai orang lain dan bersyukur atas nikmat yang telah diperoleh.

Rombongan dari sekolah Dinda telah siap menuju tempat perlombaan. Dinda melihat banyak siswa dari sekolah lain. Nyali Dinda kini teruji. Dia siswa dari sekolah terpencil dan sepatunya sungguh butut. Melihat kondisi itu, Dinda menguatkan hatinya agar tetap semangat.

Kini giliran Dinda mengikuti lomba. Dia mengikuti cabang lari pendek atau biasa disebut lari sprint 100 meter. Bagi Dinda, lari sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Dinda telah dilatih oleh alam setiap hari. Kakinya kuat dan larinya kencang seperti cheetah. Semua peserta telah menempati posisinya masing-masing.

“Bersedia … Siap … Yak!!!!!” peluit mulai dibunyikan dan Dinda melesat secepat angin.

Penonton menatap takjub ke arena. Dinda begitu cepat menempuh jarak 100 meter. Dia hanya membutuhkan waktu 9 detik. Dinda telah memecahkan rekor. Seketika semua penonton bersorak memberikan tepuk tangan meriah. Mereka begitu takjub dengan pencapaian Dinda. Dinda memang luar biasa kali ini. Dia menjadi juara 1.

Teman-teman yang satu rombongan dengan Dinda segera menghambur dan memeluk Dinda untuk memberikan selamat. Dinda begitu bahagia, ternyata sepatu bututnya sangat membantu ketika melangkah. Ringan dan melekat erat di kaki. Jelas saja ringan karena sol sepatunya sudah mulai menipis. Hehehe …

Dinda pulang membawa piala dan uang sebesar Rp. 500.000,00. Dinda juga mendapatkan hadiah sepatu dari sekolah. Sesampainya di rumah, bapak, ibu, dan adiknya sedang berkumpul. Mereka heran karena Dinda membawa banyak barang.

“Dinda, apa saja yang Dinda bawa?” tanya ibu heran.

“Dinda menang lomba, bu, juara 1. Dinda juga dapat sepatu dari sekolah. Oh ya bu, ini ada uang Rp. 500.000,00 untuk biaya obat bapak. Nanti sisanya bisa untuk membeli sembako.”

“Alhamdulillah, bapak bangga sama Dinda.”

“Terima kasih bapak, ibu, semua ini berkat doa bapak dan ibu.”

Sepatu butut Dinda masih akan Dinda gunakan sampai benar-benar rusak. Kalaupun rusak, Dinda akan tetap menyimpannya untuk kenangan.

Demikian cerpen anak berjudul Dinda dan Sepatu Butut yang ditulis oleh  Opsi Rizky Andaru. Semoga cerpen Dinda dan Sepatu Bututdapat memberi inspirasi dan manfaat untuk sahabat semua.

Mari berbagi ilmu, mari berbagi manfaat.

Satu pemikiran pada “Dinda dan Sepatu Butut”

Tinggalkan komentar