Misi untuk Kakek Embong

dianwicaksono

Dian Wicaksono “Invisible Hand”, dua kata yg memiliki banyak makna. Pernah ada seseorang yg menyampaikan pada penulis, tolonglah siapapun tanpa mengharapkan balasan. Terkadang, saat kita membutuhkan bantuan, akan ada tangan-tangan tidak terlihat yg akan menolong kita. Yah, “invisible hand”. Dalam cerita pendek ini mengisahkan keseruan anak-anak baik yg ikhlas menolong orang lain. Mereka belajar berbagi dan bermanfaat untuk seorang kakek. Ini adalah cerpen anak yg berjudul “Misi untuk Kakek Embong” karya Opsi Rizky Andaru. Teman-teman penasaran dengan ceritanya? Yukkk nikmati cerpen ini sambil ditemani secangkir teh manis hangat! Selamat membaca.

Hamparan rumput hijau telah menantang empat sekawan untuk beraksi. Sebuah lapangan bola versi mini dirawat dengan begitu baik. Siapa pun pasti akan tertarik untuk bermain di lapangan itu. Dari kejauhan terlihat empat sekawan yang sudah siap bermain sepak bola. Setelan baju bola sangat serasi dengan sepatu bola yang mereka kenakan pagi ini.

Tak menunggu lama, mereka segera bersiap-siap bermain sepak bola di lapangan mini itu. Permainan 2 lawan 2 mereka lakukan karena keterbatasan jumlah anggota. Di lingkungan perumahan ini hanya ada 4 anak yang umurnya sama. Sisanya adalah anak-anak usia balita sehingga tidak sebanding dengan kemampuan mereka bermain sepak bola.

Leo, Candra, Yuda, dan Riko berteman sejak dari balita. Kini usia mereka 11 tahun. Tentu saja bukan waktu yang singkat bagi mereka untuk menjalin persahabatan. Selain tempat tinggal mereka yang berdekatan, mereka juga bersekolah di sekolah yang sama. Empat sekawan begitu bersemangat saling mengoper bola. Pagi yang cerah menemani keempatnya menikmati liburan murah di sekitar rumah.

Guys, kalian lihat deh, itu Kakek Embong telaten sekali merapikan taman di lingkungan kita ya!” Kata Leo sembari menunjuk ke arah Kakek Embong yang sedang merapikan tanaman di taman komplek.

“Kakek Embong memang totalitas kalau bekerja. Ibuku juga pernah meminta tolong Kakek Embong merapikan bonsainya. Sungguh diluar dugaan, bonsai ibuku terlihat makin cantik dan rapi.” Sahut Riko.

“Tapi sebenarnya kehidupan Kakek Embong kasihan loh guys. Kakek Embong kan tinggal sendirian. Rumahnya di ujung kampung dan terlihat sangat sederhana. Aku pernah dengar cerita kalau istrinya 2 tahun yang lalu meninggal. Sedangkan anak satu-satunya juga meninggal akibat kecelakaan saat anaknya sedang mencari pekerjaan di Jakarta.” Ternyata Candra punya banyak informasi tentang Kakek Embong.

Mereka sedang asyik membicarakan Kakek Embong sambil bersantai di bawah pohon yang rindang. Kakek Embong usianya sudah mencapai 70 tahun. Tubuhnya masih tampak bugar, buktinya dia masih tetap bersemangat bekerja.

Guys, aku punya ide. Yuukkk kita jalankan misi untuk Kakek Embong?” Kata Yuda tiba-tiba.

“Misi!” jawab mereka bertiga serentak.

“Misi bagaimana maksudmu, Yud?” Riko mulai penasaran.

“Aku pernah melihat rumah Kakek Embong, terlihat sangat sederhana, bisa dibilang jauh dari kata layak. Dindingnya tidak permanen, guys. Atapnya juga terlihat rapuh. Lantainya juga banyak yang retak.” Jelas Yuda.

“Kok kamu tahu sih, Yud?” tanya Leo.

“Aku pernah diajak ayahku ke sana. Kakek Embong tidak mau menerima bantuan dengan mudah karena sempat kudengar dari ayahku bahwa Kakek Embong tidak mau jika orang-orang menganggapnya seperti pengemis.”

“Lalu, misi apa yang kamu maksud tadi, Yud?” Leo kembali bertanya.

“Bagaimana kita membantu perekonomian Kakek Embong?” Jawab Yuda.

“Bukankah Kakek Embong tidak mudah menerima bantuan begitu saja?”

“Kamu betul Rik, aku punya ide nih. Kalian semua dengarkan dulu. Di samping rumah Kakek Embong ada tempat memelihara ayam. Tapi sepertinya tidak ada ayam yang Kakek Embong pelihara. Aku yakin Kakek Embong pernah memelihara ayam-ayamnya di tempat itu. Bagaimana kalau kita titip ayam untuk dipelihara Kakek Embong? Masalah pakan ayam kita juga yang nanggung. Ayam-ayam itu dapat menjadi penghasilan buat Kakek Embong. Kan ayam bisa berkembang biak, bisa bertelur juga. Hasilnya bisa dijual oleh Kakek Embong.” Yuda menjelaskan idenya pada ketiga temannya.

“Aku setuju, kita bilang saja sama Kakek Embong kalau hasilnya dibagi 2. Sebagian untuk Kakek Embong, dan sebagian kita tabung untuk membantu Kakek Embong memperbaiki rumahnya kelak.” Imbuh Leo.

“Baguuuusssss … buat beli ayamnya bagaimana?” celetuk Candra.

“Kita iuran saja, kalian punya tabungan? Jawab Yuda.

“Punya doooooong …” Mereka bertiga menjawab serentak.

Empat sekawan bersepakat melancarkan misi rahasia untuk Kakek Embong. Mereka bertugas menjalankan misi. Candra dan Leo bertugas membeli sepasang ayam yang sudah siap berkembang biak. Mereka bersepakat akan membelinya di pasar hewan esok hari. Keduanya sangat bersemangat karena mereka bisa jalan-jalan melihat berbagai jenis hewan yang dijual di sana. Riko bertugas menemani sopir pribadi ayahnya untuk membuat kandang ayam dan memperbaiki pagar yang mengitari kandang ayam tersebut. Pekerjaan itu juga akan dibantu oleh sopir pribadi ayah Yuda. Kali ini Yuda bertugas mengecoh Kakek Embong agar sementara mau merapikan taman di rumah Yuda. Mereka tidak ingin Kakek Embong mengetahui misi rahasia mereka.

Saat mereka asyik berbagi ide, tiba-tiba Kakek Embong menghampiri mereka dan duduk di antara mereka.

“Anak-anak, seru sekali ngobrolnya. Kakek melihat kalian dari kejauhan jadi ingin ikut ngobrol.” Ucap Kakek Embong.

“Iya kek, kita sedang menikmati hari libur. Tadi habis main bola rasanya cukup lelah, kek.” Kata Candra.

“Kakek sudah selesai merapikan tanaman di sana?” tanya Yuda sambil menunjuk ke arah taman yang baru saja dikerjakan Kakek Embong.

“Sudah, nak. Kakek senang karena orang-orang di komplek perumahan ini masih percaya pada kakek untuk merawat taman mereka. Jadi setiap hari kakek masih bisa makan dengan cukup.”

“Kek, apa besok bisa membantu merapikan taman di rumahku?” Imbuh Yuda.

“Tentu saja kakek bisa.”

“Alhamdulillah, terima kasih kakek.”

“Sama-sama, nak.”

Matahari semakin meninggi, cuaca hari ini berubah menjadi cukup terik. Mereka memutuskan untuk pulang dan bersiap-siap melaksanakan misi esok hari. Empat sekawan sangat kompak dan peduli dengan Kakek Embong. Walau usia mereka tergolong masih anak-anak, pemikiran mereka patut diacungi jempol. Mereka begitu dewasa menghadapi persoalan yang sedang ada di hadapan mereka.

Keesokan pagi …

Mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Kabut tipis terasa membelai kulit empat sekawan. Mereka telah bersiap menjalankan misi untuk Kakek Embong. Jam dinding menunjukkan pukul 05.30. Mereka bersemangat menjalankan tugas masing-masing. Riko dan pak sopirnya telah siap membawa perlengkapan tukang dan mengangkutnya dengan mobil pick up. Dia akan mulai beraksi setelah Kakek Embong sampai di Rumah Yuda. Yuda pun meminta bantuan ibu dan ayahnya agar Kakek Embong tidak cepat-cepat pulang ke rumahnya. Saat ini mereka sedang berkumpul di depan rumah Riko yang letaknya di belakang rumah Yuda sehingga Kakek Embong tidak akan mengetahui mereka berkumpul.

“Ndra, kita berangkat ke pasar hewan sekarang yuk.” Ajak Leo.

“Ayookkk …”

Leo dan Andra bergegas ke menuju pasar hewan yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal mereka. Riko dan Yuda masih menunggu waktu untuk mereka melakukan tugas masing-masing. Setelah Kakek Embong sampai di rumah Yuda, mereka berdua baru beraksi.

Di pasar hewan …

“Ndra, di rumah nenekku, banyak sekali ayam jago. Ayamnya sehat dan besar. Semoga saja nanti kita menemukan ayam super ya, Ndra?” Kata Leo memulai pembicaraan.

“Semoga saja, Yukkk kita lihat ke sana!”

Andra mengarahkan langkahnya menuju sekelompok pedagang ayam.

“Dek, mau cari ayam apa?” tanya salah satu pedangang.

“Kami mau cari sepasang ayam untuk dikembangbiakkan pak.” Ucap Candra.

“Carinya yang super pak, biar bertelurnya banyak. Pasti asyik kalau ayamnya punya banyak anak.” Sahut Leo.

“Ini saja, dek. Ayam bapak kualitasnya super.”

Bapak penjual ayam semangat sekali menunjukkan sepasang ayam yang tampak sehat. Setelah menemui kesepakatan tentang harga, mereka membawa kedua ayam tersebut yang diletakkan di wadah ayam. Saat di perjalanan menuju rumah Kakek Embong, tiba-tiba ada sepeda motor yang melaju cukup kencang ke arah mereka. Seketika mereka pun memutar badannya dan berusaha menghindari sepeda motor yang melintas. Jalan kecil yang mereka lalui memang seringkali dilalui pengendara sepeda motor yang kurang hati-hati. Alhasil kedua anak itu jatuh terjerembab ke pinggir jalan yang berlumpur. Ayam yang mereka beli lepas dari wadahnya.

Mereka berlari lintang pukang mencari sepasang ayam yang baru dibeli. Untung saja ayam betina yang lepas berada tidak jauh dari mereka sehingga mereka dengan mudah menangkapnya lagi. Si ayam jantan terus berlari keluar pasar hewan menuju lapangan. Candra dan Leo terus berlari bahkan nafasnya terdengar “ngos-ngosan”. Mereka hampir menyerah mencari si Jago Super. Akhirnya mereka duduk di bawah pohon mangga di dekat lapangan. Rasanya lelah sekali mengejar si Jago Super.

Ketika Leo menengadahkan kepalanya, terlihat si Jago sedang berdiri dengan angkuhnya di dahan yang cukup besar.

“Ndra, ayamnya di atas kita.” Bisik Leo pada Andra.

“Oh ya benar. Aku akan manjat pelan-pelan. Dahannya tidak terlalu tinggi jadi aman.”

Candra mulai memanjat pohon mangga itu, memang tidak terlalu tinggi. Dengan penuh kehati-hatian akhirnya si Jago Super tertangkap.

“Hap! Alhamdulillah tertangkap!”

“Hooooreeeeeee!!!!” Mereka bersorak bersama penuh kemenangan. Mereka segera menuju ke rumah Kakek Embong karena takut sepasang ayam itu akan lepas lagi

Sedangkan di rumah Kakek Embong …

Terlihat Sopir ayahnya Riko bekerja dengan sungguh-sungguh. Pak Danu, sopir Ayahnya Riko dibantu oleh Riko dan Yuda untuk memperbaiki kandang ayam. Kandang ayam dibuat lebih besar tetapi juga diberi sekat-sekat untuk ayam-ayam muda yang akan menetas kelak. Pagar keliling dari bambu sengaja dibuat agar ayam-ayam Kakek Embong tidak berkeliaran ke rumah tetangga. Walaupun hanya terbuat dari bambu, Pak Danu mampu membuatnya terlihat kokoh. Semua alat dan bahan sengaja disediakan oleh ayah Riko. Riko menceritakan misinya pada ayahnya. Berbagai bahan disediakan dengan mudah karena ayah Riko bekerja di bidang properti. Pak Danu ternyata juga tukang kayu profesional yang merangkap menjadi sopir pribadi Ayah Riko.

“Candra! Leo! Kalian kenapa?” Riko kaget melihat penampilan kedua temannya yang berantakan sambil membawa 2 wadah ayam.

“Tadi 2 ayam ini nyaris kabur saat kami terjatuh.”

Akhirnya mereka menceritakan kronologis peristiwa yang mereka alami selepas dari pasar. Bukannya terharu atau ikut sediih, Riko, Yuda, dan Pak Danu tertawa terpingkal-pingkal seolah-olah mendapatkan hiburan gratis.

“Hahahahaha … untung saja kalian yang cemong, bukan ayamnya.” Kata Riko sambil terbahak.

“Rikoooooooo!” Seru Candra dan Leo serempak.

Mereka melanjutkan pekerjaan menata kandang ayam agar terlihat bersih dan tertata dengan baik. Mereka juga menata beberapa barang yang tidak terpakai. Kandang ayam yang terletak di samping rumah Kakek Embong siap dihuni oleh ayam-ayam peliharaan. Sepasang ayam super yang mereka bawa segera mereka letakkan di dalam kandang dan diberi pakan. Mereka berkomitmen akan selalu menyediakan pakan ayam secara rutin. Mereka tidak ingin Kakek Embong menjadi kerepotan membeli pakan ayam.

Setelah pekerjaan mereka selesai, mereka duduk di teras rumah Kakek Embong sambil mengobrol. Tak lupa mereka menyantap bekal yang disiapkan oleh ibunya Yuda.

“Assalamu’alaikum, anak-anak, kok kalian duduk-duduk di sini?” tanya Kakek Embong.

Ternyata saking asiknya ngobrol, tepat saat dhuhur Kakek Embong telah menyelesaikan tugasnya di rumah Yuda.

“Wa’alaikumsalam, kek. Kebetulan kakek sudah pulang. Sebenarnya kami hanya ingin menyelesaikan misi. Misi yang tidak lagi rahasia. Hehehe …” Ucap Leo.

“Misi? Misi apa, nak?” Kakek Embong terlihat kebingungan.

“Mari kakek duduk dulu di samping Pak Danu.” Candra mempersilakan Kakek Embong duduk di kursi samping Pak Danu.

“Jadi begini kek, kita mau kasih kejutan buat kakek. Kami memperbaiki kandang ayam di samping rumah kakek. Kami tahu kalau dulu kakek memelihara banyak ayam, mungkin karena banyak kebutuhan maka ayam-ayam itu dijual. Kita mulai pelihara ayam lagi yuk, kek! Kami berempat sudah membeli sepasang ayam super untuk dipelihara di sini bersama-sama. Kami bertanggung jawab soal pakan ayamnya, kami akan rutin menyediakannya kek.” Imbuh Candra.

“Benarkah? Kakek senang sekali, kakek sebetulnya sangat sedih dulu sempat menjual ayam-ayam kakek demi mengobati istri kakek sebelum meninggal, 2 tahun yang lalu.”

“Jadi kakek mau memelihara sepasang ayam dari kami?”

“Iya, nak, semoga segera berkembang biak dan semuanya menjadi milik kalian.”

“Tidak kek, itu milik kita semua termasuk kakek. Jadi kalau suatu saat ayamnya berkembangbiak dan bisa dijual, hasilnya kita bagi 2. Setengah untuk kebutuhan kakek, setengah untuk tabungan kami.” Jelas Yuda.

Pak Danu terlihat senyum-senyum. Dia tidak menyangka kalau anak majikannya begitu murah hati sama seperti majikannya itu.

“Terima kasih, kalian anak-anak hebat karena telah memikirkan ini semua untuk kakek. Apa kakek bisa melihat kandang ayamnya sekarang?”

“Tentu saja, kek.” Jawab mereka serempak.

“Waaahhhh, bagus dan bersih. Kakek sangat bersemangat memelihara sepasang ayam itu.”

“Syukurlah, kek, kami janji akan membantu kakek memelihara ayam di sini.” Kata Candra semangat.

“Kakek, kami pamit dulu ya, mau mandi dan lanjut sholat dhuhur.” Sahut Leo.

“Oh ya, jangan sampai telat sholatnya. Hati-hati di jalan ya, nak.”

“Assalamu’alaikum, kek.”

“Wa’alaikumsalam.”

Mereka pulang naik mobil pick up dan duduk di bagian belakang mobil. Mereka senang karena telah bermanfaat bagi orang lain. Saat di perjalanan pulang, mereka dengan kompak mengulurkan tangan dan menyatukannya. “MISSION COMPLETE!!!!!!” Mereka berseru bersamaan. Hari ini adalah hari yang berkesan bagi empat sekawan.

Demikian cerpen berjudul Misi untuk Kakek Embong karya Opsi Rizky Andaru, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua.

Mari berbagi ilmu, mari berbagi manfaat.

Tinggalkan komentar