Saputangan Ungu

dianwicaksono

Dian Wicaksono – Saputangan Ungu, sahabat itu seperti sosok terbaik yang Tuhan titipkan di dunia. Sahabat akan selalu setia mendengarkan cerita-cerita kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan dengan sahabat. Petualangan, eksperimen, melakukan perjalanan bersama, atau bahkan hanya sekedar berbagi cerita. Ketika kamu menemukan temanmu, jadikanlah dia sahabat. Jagalah persahabatanmu agar abadi. Dalam cerita ini, berawal dari kisah Veli dan Aldo yang bagaikan seekor anjing dan kucing. Tapi, akhirnya…. Apakah kalian penasaran? Yuk, baca cerpen berjudul “Saputangan Ungu” yang menemanimu mengisi waktu.

Mentari pagi mulai meninggi, terdengar langkah kaki yang memburu menuju sebuah ruang kelas.

“Tap … tap … tap …”

Hingga sampai di depan pintu, terlihat sepasang siswa kelas 5 berebut masuk ke kelas. Satu sama lain tidak ada yang ingin mengalah sehingga keduanya jatuh terjerembab di depan meja guru. Bu Ita, wali kelas 5 menatap kedua siswa tersebut sambil tersenyum.

“Veli, Aldo, ayo kalian bangun! Cepatlah berdiri di samping ibu!” perintah Bu Ita pada kedua siswa tersebut. Keduanya menunduk malu.

Velicyta Angelina dan Aldo Jonata terlambat lagi untuk kesekian kali. Pemandangan di depan kelas pagi ini seolah-olah sudah menjadi sarapan pagi bagi teman-teman sekelas mereka. Entah apa saja yang mereka lakukan sebelum berangkat. Berbagai alasan telah mereka gunakan untuk membela diri. Terkadang mereka berkilah dengan alasan membantu orang tua di rumah. Kenyataannya, orang tua kedua anak itu selalu menyampaikan bahwa anak-anak mereka sering bangun kesiangan.

Hukuman dari guru sudah tidak mempan bahkan mereka seperti menikmati hukuman. Seperti yang mereka alami pagi ini. Mereka harus menata buku-buku yang ada di perpustakaan dan wajib meringkas 1 buah buku fiksi. Sebenarnya kedua anak ini adalah anak yang cerdas, akan tetapi mereka kurang disiplin di sekolah.

Aldo cukup bersemangat menata buku di perpustakaan. Dia menata buku berdasarkan nomor yang tersedia di masing-masing rak buku. Tiba-tiba perhatian Aldo tertuju ke bawah rak buku. Dilihatnya 2 ekor kecoa yang sedang berada di pojokan. Ide jahilnya mulai bekerja. Dia mengambil 2 ekor kecoa tanpa rasa jijik sedikitpun. Kecoa yang malang itu dilempar oleh aldo ke arah rak yang ada di depan Veli. Lemparannya begitu tepat sehingga seketika Veli dapat melihat 2 kecoa itu.

“Aaaaaaaarrrggggghhhhhh … Tolooooongggg ada kecoa!” teriak Veli.

Teriakan Veli membuat petugas perpustakaan kaget dan menanyakan apa yang sedang terjadi.

“Ada apa Veli?”

“I-itu pak, ada 2 kecoa di pojok rak buku.” Tunjuk Veli ke arah rak buku yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

“hahahahahahahaaa …” seketika terdengar suara tawa Aldo. Dia terlihat sangat bahagia melihat Veli ketakutan. Aldo terus tertawa sambil memegang perutnya.

“Aldooooo … Ini pasti ulahmu ya?! Kamu usilnya sudah akut. Dasar pengacau!” kata Veli menggebu-gebu dan penuh kekesalan.

“Hahaahhahaa … Kau tahu saja. Dasar penakut!!” ledek Aldo.

“Awas ya!! Aku akan membalasmu nanti.”

Veli bermaksud melempar kain lap ke arah Aldo. Sayangnya lemparannya meleset karena Aldo dengan lincah menghindar. Aldo terus menghindar sambil membereskan buku-buku di rak hingga pekerjaan mereka selesai.

Setelah mereka membereskan buku, Aldo dan Veli mengambil buku untuk dibuat ringkasannya. Suasana perpustakaan kembali hening. Suara detik demi detik dari jam dinding sampai  terdengar saking heningnya. Aldo dan Veli melaksanakan hukuman mereka dengan baik dan serius. Membuat ringkasan bukanlah tugas yang berat bagi mereka. Walaupun kedua anak ini seperti kucing dan anjing ketika bertemu, mereka selalu bertanggung jawab mengerjakan tugas.

Bel tanda istirahat berbunyi tepat saat hukuman untuk kedua anak itu diselesaikan dengan baik. Mereka kembali ke kelas dan melaporkannya kepada Bu Ita. Selain diberi hukuman, wali kelas mereka tak pernah bosan memberikan mereka nasihat agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

“Aldo, bolehkah ibu meminta tolong meletakkan globe di atas lemari? Kamu bisa naik meja tapi tolong sepatunya dilepas ya?” pinta Bu Ita.

“Baik, bu.”

Aldo dikenal sebagai anak yang jahil, tetapi dia sangat bisa diandalkan untuk dimintai tolong oleh siapapun.

Aldo mulai melepaskan sepatu dan meletakkannya di samping meja guru. Dia mengambil satu per satu globe untuk diletakkan di atas lemari yang cukup tinggi. Ada 3 buah globe sehingga Aldo harus bolak-balik naik ke atas meja. Tanpa Aldo sadari, Veli mengambil sepatu Aldo. Letaknya yang tak jauh dari pintu, memudahkan Veli mengambil sepatu itu dan membawanya keluar. Suasana kelas memang sepi. Semua siswa sedang menikmati waktu istirahat di kantin sekolah. Veli meletakkan sepatu Aldo di parkiran sepeda.

“Rasakan kamu, Do! Berarti hari ini kita seri. Carilah sepatumu sampai kamu menangis.” Gumam Veli sambil tersenyum misterius.

Sedangkan di kelas…

“Sepatuku di mana ya? Sepertinya tadi ada di sini?” Aldo membatin.

Seketika Aldo tersadar dan meneriakkan nama Veli sedangkan yang punya nama entah ada di mana.

Semua siswa mulai masuk ke kelas termasuk Velicyta. Veli berakting cuek seolah tidak tahu apapun. Siswa lain memandang Aldo penuh tanda tanya. Kini Aldo duduk di kursinya tanpa sepatu.

Aldo sudah mencari sepatu itu sekitar kelas akan tetapi tetap tidak ketemu. Dia mendengkus kesal pada Veli dan tak berani menuduh tanpa adanya bukti. Aldo sengaja tidak menceritakan sepatunya yang hilang kepada ibu guru. Dia akan berusaha menemukannya sendiri dan akan membalas perbuatan orang yang telah menyembunyikan sepatunya.

Pembelajaran telah usai pukul 12.10. Siswa berdoa sebelum pulang ke rumahnya masing-masing. Aldo berjalan ke arah parkiran tanpa memakai sepatu sambil melihat ke sekitar barangkali ada tanda-tanda keberadaan sepatunya. Matahari pada siang itu sungguh terik. Veli merasa bersalah dan kasihan pada Aldo. Pasti kaki Aldo merasa kepanasan menginjak aspal tanpa sepatu. Aldo sengaja keluar kelas paling akhir agar tidak ada yang melihatnya mencari sepatu. Aldo menolak bantuan teman-temannya untuk mencari sepatu.

Ketika sampai di parkiran sepeda, dia melihat sepatunya bertengger cantik di atas pohon mangga.

“Veliiiiii … Ini pasti ulah kamu! Siapa lagi yang bisa naik pohon mangga itu selain kamu! Awas saja ya Vel, besok pasti akan kubalas!” umpat Aldo penuh kekesalan. Dia memakai sepatu itu dan mengayuh sepedanya.

Di kejauhan tampak Veli belum meninggalkan sekolah. Saat Veli yakin bahwa Aldo sudah memakai sepatunya, Veli kembali mengayuh sepedanya. Aldo terlihat cuek dan tidak berniat membalas perbuatan Veli sekarang. Dia mengayuh sepeda di belakang Veli.

“Braaakkkkkkk … Aaaaaarggghhhhhh … Toloooooonggg …” teriak Veli dari kejauhan.

Aldo segera mengayuh sepedanya dengan cepat. Dia melihat Veli jatuh ke sungai kecil. Aldo turun ke sungai bermaksud menolong. Veli pingsan dan terlihat darah keluar di bagian lutut. Darahnya cukup banyak yang keluar. Dengan cepat, Aldo mengambil saputangan warna ungu yang selalu dia bawa di tasnya. Dia mengikat lutut Veli dan berharap darah yang keluar akan berhenti.

Aldo kembali ke jalan dan mencari bala bantuan. Dia memanggil beberapa orang dewasa agar dapat membawa Veli ke puskesmas terdekat. Ada 3 orang yang membantu Aldo untuk membawa Veli ke puskesmas. Salah satunya adalah tetangga Veli. Tetangga Veli segera mengabarkan orang tua Veli bahwa Veli mengalami kecelakaan.

“Pak, saya akan meletakkan sepeda Veli di sekolah, ya. Mohon bapak sampaikan pada orang tua Veli bahwa sepedanya ada di sekolah.” Kata Aldo pada tetangga Veli.

“Baik, nak.”

“Terima kasih banyak, pak.”

“Sama-sama, nak.”

Aldo pulang dengan rasa cemas. Dia memikirkan keadaan Veli. Hingga malam tiba, dia terus memikirkan Veli. Aldo tidak tahu caranya mencari tahu keadaan Veli saat ini. Aldo hanya mampu berdoa setulus hati agar Veli tidak terluka parah.

Veli sudah pulang ke rumah. Dia hanya mengalami luka di bagian tangan dan kakinya. Untung saja luka yang ada di lutut segera dihentikan dengan saputangan ungu itu. Veli pingsan karena terlalu kaget dan takut melihat lukanya sendiri. Untunglah semua sudah terobati dan kini Veli sudah membaik.

“Veli, syukurlah banyak yang menolongmu tadi siang. Bagaimana lukamu, sayang? Apakah masih terasa sakit? Kalau masih sakit, besok tidak usah berangkat ya?” kata ibu Veli penuh kelembutan.

“Alhamdulillah sudah membaik bu. Veli akan tetap berangkat besok karena besok ada ulangan harian. Veli masih bisa berjalan dengan baik, bu.”

“Baiklah, kalau sakit bilang sama ibu ya? Oh ya, ini saputangan teman Veli. Ibu sudah mencucinya dan menyetrikanya. Besok Veli bisa mengembalikan pada teman Veli dan mengucapkan terima kasih. Untung saja dia mengikat lutut Veli sehingga darah yang keluar tidak terlalu banyak.” Jelas ibu pada Veli.

“Baiklah, bu.” jawab Veli

“Saputangan ini milik siapa ya? Ada inisial AJ?” gumam Veli sambil menatap saputangan ungu itu.

Veli bangun lebih awal agar dia tidak terlambat mengikuti ulangan. Walaupun lutut dan kakinya penuh plester, dia tetap bersemangat ke sekolah.

Sesampainya di kelas, tiba-tiba Aldo duduk di sebelah Veli.

“Vel, apa kabar? Apa lukamu masih terasa sakit?” tanya Aldo.

Veli mengerutkan dahi. Bagaimana Aldo tiba-tiba menanyakan kabar?

“Eeeuummm … aku baik-baik saja. Kemarin aku terjatuh ke sungai.” Ucap Veli.

“iya, aku tahu.”

“Kamu tahu aku jatuh, Do?”

“Iya, syukurlah kalau keadaanmu sudah membaik. Aku mau duduk di kursiku.”

Aldo berdiri dan memutar badannya ke arah kursi kesayangannya yang ada di pojok kelas. Ketika Aldo memutar badan, Veli melihat inisial yang sama persis dengan yang ada di saputangan ungu. Inisial itu ada di tas Aldo.

“Tunggu!” ucap Veli mengagetkan.

“Ada apa?”

“Do, apa kamu yang menolongku kemarin? Saat aku terjatuh di sungai kecil itu?”

“I-iya, bagaimana kamu tahu?” jawab Aldo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Inisial AJ yang ada di tas kamu sama persis dengan inisial yang ada di saputangan ini.” Kata Veli sambil menunjukkan saputangan ungu pada Aldo.

“Itu memang saputanganku, Vel. Kemarin sepulang sekolah aku melihatmu jatuh ke sungai kecil. Seketika kamu pingsan. Darah yang keluar dari lututmu cukup banyak. Jadi aku berinisiatif mengikat lututmu dengan saputangan itu agar darah yang keluar tidak semakin banyak.” Aldo menjelaskan kepada Veli.

“Ini kukembalikan saputanganmu.” Veli menyodorkan saputangan itu pada Aldo.

“Makasih ya, Do. Berkat kamu, aku tertolong. Lukaku segera tertangani dengan baik. Saat ini aku juga bisa berangkat sekolah.” Lanjut Veli.

“Iya sama-sama, Vel.”

“Do, aku juga minta maaf telah jahil padamu. Kemarin yang ngumpetin sepatumu itu aku. Aku sebenarnya kesal karena kamu menakutiku dengan kecoa. Jujur saja, Do, aku merasa bersalah saat kamu pulang mencari sepatumu padahal siang kemarin sangat panas.”

“Hehehehe … Aku sudah tahu yang ngumpetin sepatuku pasti kamu. Di sekolah ini mana ada yang berani manjat pohon mangga di parkiran selain kita berdua. Aku juga minta maaf karena sering menjahilimu. Entah kenapa rasanya puas membuatmu takut dan menangis histeris.” Aldo berkata sambil cengengesan.

“Dasar Aldo jeleeeeeekkkk …”

“Maaaff … maaafff … Mulai sekarang kita berteman baik saja yuk. Aku janji tidak akan berbuat jahil sama Veli Si Penakut.” Ucap Aldo pada Veli.

“Huuuuuu … Katanya minta maaf, kok masih ngatain?”

“Hehehe … Iyaaaa … iya. Sekarang aku beneran minta maaf dan serius mengajak kamu berteman baik.”

“Oke baiklah, mulai sekarang kita jadi teman baik dan saling menolong.”

Mereka sepakat sambil menautkan jari kelingking sebagai tanda pertemanan mereka dimulai.

“Vel, teman-teman sudah mulai datang. Yukkk kita siap-siap ulangan. Tiap ada ulangan seperti ini rasanya aku sangat bersemangat untuk berangkat lebih awal.” Kata Aldo.

“Samaaa.”

“Hahahahaaa …” Merekapun tertawa bersama. “Terima kasih atas saputangan ungu milikmu, Aldo.” Veli kembali membatin.

Demikian cerpen berjudul Saputangan Ungu karya Opsi Rizky Andaru, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua.

Mari berbagi ilmu, mari berbagi manfaat.

Tinggalkan komentar