Gadis Sungai Serayu

dianwicaksono

Dian Wicaksono – Gadis Sungai Serayu, sebuah cerpen anak karya Opsi Rizky Andaru yang sangat menarik untuk dibaca.

“Tut… tuuuuuuuuutttt…..”

Terdengar suara sirene kereta api melintas di jembatan Sungai Serayu. Si Ular besi melintas dengan penuh hati-hati. Tak jauh dari jembatan itu, terlihat seorang gadis menatap penuh haru. Gadis mungil itu duduk terdiam di hamparan rumput hijau, berselimutkan udara dingin menusuk tulang. Dia duduk manis pagi-pagi sekali saat ayam kakeknya baru saja berkokok. Dia terus terdiam, seakan menunggu sesuatu hingga matahari menghangatkan tubuhnya.

Di depan matanya yang bulat dan bercahaya, terbentang luas sebuah lukisan alam karya Sang Maha Kuasa. Matanya terbelalak, jantungnya berdegup kencang. Seketika dia membatin, “Aku ingin melukisnya.”

Air sungai serayu tampak berkilauan. Mentari pagi seakan senang memberikan sinarnya. Kabut tipis masih terasa di kulit jari-jari tangannya. Gadis itu benar-benar menikmati suasana pagi di pinggiran Sungai Serayu.  

“Aira…”

Terdengar suara serak kakeknya memanggil dengan penuh kelembutan. Kakek yang begitu dia sayangi dan dibanggakannya. Aira, nama gadis mungil itu. Dia tinggal bersama kakek dan neneknya. Ibunya meninggal sesaat setelah dia dilahirkan. Dan ayahnya, meninggal karena kecelakaan sepulang kerja. Ayahnya meninggal sebelum Aira dilahirkan. Jadi bagaimana Aira mengenal sosok orang tua? Dia tahu dari “katanya”.  Cerita tentang kebaikan kedua orang tuanya selalu menyertai hidup Aira.

“Ya kakek, Aira sudah cukup duduk di sini. Aira ingin segera melukis, kek.” Jawab Aira.

Kakeknya tersenyum dan mengajak Aira pulang ke rumah. Begitulah kebiasaan Aira setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Dia sangat senang melihat keindahan pinggiran Sungai Serayu pada saat pagi hari. Apalagi ada jembatan kereta di mana setiap pagi akan ada kereta melintasinya. Orang-orang bilang, keindahan Sungai Serayu, tak seindah dulu. Akan tetapi di mata gadis itu, apa yang terlihat tetaplah indah.

Tak lama mereka pun sampai di rumah kakek. Aira segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Setelah mandi, Aira duduk di kursi kesayangannya. Neneknya keluar dari dapur membawakan sarapan dan teh manis hangat kesukaannya. Aira selalu bersyukur telah dirawat oleh kakek dan neneknya dengan penuh kasih sayang.

Aira bercerita pada kakek dan neneknya bahwa hari ini akan ada lomba melukis di pusat kota. Aira ragu. Semangatnya seketika pudar ketika dia mengingat ayah dan ibunya yang telah tiada. “Jika aku menang, akan kupersembahkan pada siapa?” gumam Aira ketika hendak makan.

Kakek yang mendengar Aira bergumam segera mengajaknya bercerita.

“Apa yang sedang Aira pikirkan?” tanya kakeknya penuh perhatian.

“Kakek, Aira sangat ingin mengikuti lomba melukis hari ini di pusat kota. Aira berharap menjadi pemenangnya. Aira hanya sedih kakek, Aira ingin mempersembahkan karya ini untuk ayah dan ibu. Tapi mereka telah tiada.” Jelas Aira.

Setelah mendengarkan Aira, kakek menceritakan sebuah kisah. “Aira, ingatkah Aira pada kisah Nabi Muhammad SAW? Saat beliau berumur 2 bulan dalam kandungan, sang ayah wafat. Saat Nabi Muhammad SAW berusia 6 tahun sang ibu, Siti Aminah wafat. Beliau tumbuh menjadi teladan bagi setiap umat manusia. Apakah Aira dapat memahami maksud kakek?”

“Iya kakek, Aira tidak boleh bersedih apalagi menyerah. Ayah dan ibu pasti akan bangga jika Aira mengikuti lomba dengan sungguh-sungguh. Maafkan Aira, kakek. Aira bahagia bersama kakek dan nenek.” Jawab Aira penuh semangat.

Kakek dan nenek tersenyum melihat Aira bersemangat mengikuti lomba. Ia menghabiskan sarapan dengan lahap dan segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah.

Sepanjang perjalanan ke sekolah, dia melihat anak-anak seusianya berseragam merah putih berjalan dengan riang sambil membawa tas sekolah. Seorang anak perempuan menyapanya, ”Selamat pagi Aira..”

Aira pun menjawabnya sambil tersenyum manis, “Selamat pagi, Dina”

Aira dan Dina berjalan bersama menuju sekolah mereka yang tidak jauh dari rumah.

Sesampainya di sekolah, ada suara seseorang yang memanggilnya.

“Airaaaaaaa…!” teriak orang itu.

Aira segera mencari sumber suara. Terlihat Andra dengan rambut jabriknya memanggil dari kejauhan. Dia membawa selembar brosur yang akan ditunjukkan pada Aira. Andra menghampiri Aira dengan penuh semangat dan segera menunjukkan brosur tersebut.

“Aira, kemarin aku berjalan-jalan di alun-alun bersama orang tuaku. Kebetulan di sana ada pameran dan pertunjukan musik. Aku mendapatkan brosur lomba melukis yang akan diadakan nanti siang. Barangkali kamu berminat karena aku tahu lukisanmu sangat indah.” Ucap Andra dengan penuh semangat. Andra adalah salah satu sahabatnya yang selalu mendukung Aira.

Aira mengamati brosur tersebut. Lomba diadakan di pusat kota. Brosur yang dibawa oleh Andra sama persis dengan pengumuman yang disampaikan pak guru kemarin. Aira belum tahu bagaimana dia akan ke pusat kota untuk mengikuti lomba. Mungkinkah sekolah akan menyediakan transportasi? Lalu, kalau tidak ada, siapa yang akan mengantarnya?

“Andra, aku sangat ingin mengikuti lomba itu. Kakek dan nenek tidak mungkin bisa mengantarku ke sana. Kakek dan nenek sangat jarang ke kota, paling jauh mereka pergi ke pasar yang ada di desa kita.” Aira tampak kebingungan.

“Aku juga bingung Aira, mau bagaimana ya?” sahut Andra.

“Bagaimana kalau kita tanya langsung pada pak guru?” usul Dina. Sepertinya usul Dina adalah solusi terbaik.

“Krrriiiiiiingggg!!! Kriiiiinggggg!!!”

Bunyi bel tanda masuk terdengar dan mereka pun segera berbaris di depan kelas masing-masing. Kebetulan Andra dan Dina juga sekelas dengan Aira.

Pada saat jam pertama, mereka belajar bagaimana melukis keindahan alam di sekitar rumah. Aira sangat bersemangat. Dia teringat pemandangan pinggiran Sungai Serayu pagi ini. Aira mengambil pensil untuk membuat sketsa lukisan.

Raut wajahnya berbinar, dia menggoreskan pensil itu di atas kertas gambar yang ukurannya cukup lebar. Tanpa ia sadari, ibu guru Sri mengamatinya. Bu Sri mendekati Aira dan menyampaikan sebuah pujian. “Aira, indah benar sketsa lukisanmu! Seolah Bu Sri pernah melihatnya di suatu tempat. Tempat apa yang kamu lukis, Aira?”

Aira merasa tersanjung, “Ini lukisan pinggiran Sungai Serayu, bu. Dekat dengan rumah kakek dan nenek. Ada jembatan kereta apinya. Saya setiap pagi sengaja duduk di pinggiran Sungai Serayu untuk menikmati keindahan pemandangan pinggir Sungai Serayu.” Jawab Aira.

“Oooh, pantas saja ibu merasa pernah melihatnya. Pinggiran Sungai Serayu memang sangat indah.” Bu Sri menimpali.

“Tok … tok … tok …!”

Terdengar ketukan pintu. Semua murid memberi salam kepada Pak Joko yang masuk ke dalam kelas.

“Bu Sri, saya mohon izin memberikan pengumuman pada anak-anak.” Kata Pak Joko.

“Oh ya, silakan, pak.” Jawab Bu Sri mempersilakan.

Pak Joko memberikan pengumuman pada semua murid, “Anak-anak, hari ini ada lomba melukis di alun-alun seperti yang telah bapak umumkan kemarin. Apakah ada siswa kelas 5 yang berminat mengikuti lomba? Siapa saja yang berminat akan pak guru antar sampai di tempat lomba. Pak guru dan Bu Sri juga akan menemani kalian selama perlombaan berlangsung.”

Gadis Sungai serayu

Anak-anak terlihat antusias, terutama Aira. Dia segera mendaftar pada pak guru. Di kelas Aira, ada lima anak lainnya yang berminat mengikuti lomba.

“Jadi, murid kelas 5 yang mengikuti perlombaan ada enam orang. Ada Dina, Andra, Dika, Aira, Sasa, dan Malik. Kita akan berangkat pukul 09.00 dari sekolah dan lomba akan selesai pukul 13.00. Jadi ketika lomba selesai, teman-teman kalian juga baru selesai pembelajaran.” Jelas Pak Ichsan.

Mereka yang mengikuti lomba mempersiapkan diri untuk berangkat mengikuti lomba. Alat untuk menggambar ternyata telah disediakan oleh panitia.

Aira sangat bahagia berkesempatan mengikuti lomba lukis pada hari itu. Di perjalanan, dia terus menerus memikirkan apa yang akan dia lukis. Kebetulan temanya tentang keindahan alam di sekitar tempat tinggal. Akankah Aira melukis keindahan Pinggiran Sungai Serayu?

Sesampainya di tempat lomba, mereka menuju tempat pendaftaran dan mulai menempatkan diri. Setelah alat lukis dibagikan, mereka mulai melukis dengan hati yang gembira.

“Hhmmmm…sepertinya aku akan melukiskan pinggiran Sungai Serayu saja. Kata kakek, pinggiran sungai Serayu adalah tempat favorit ibuku saat beliau ingin melepaskan lelah.” Gumam Aira.

Ibu Aira senang memandang Sungai Serayu dari pinggir saat pagi hari. Suasananya masih sangat sejuk. Ditambah lagi ada pemandangan kereta api yang melintas di jembatan setiap beberapa waktu.

Aira mulai menggunakan alat lukisnya. Warna- warna yang ada begitu lengkap sehingga dia dengan leluasa bisa melukiskan keadaan di sana. Warna hijau dan coklat untuk pepohonan, warna kelabu untuk kabut tipis yang selalu dirasakannya, warna biru, warna hitam, warna kuning, warna coklat…. Yah, semua warna terlihat menarik dan mengesankan bagi Aira.

Satu jam berlalu, Aira sangat berkonsentrasi hingga tidak mendengar suara temannya.

“Aira, Aira! Aira!” panggil Dina.

“Ah, ya… ada apa, Din?” jawab Aira terkejut.

“Aku membutuhkan warna coklat, apakah aku boleh meminta milikmu?” pinta Dina.

“Bagaimana ya, aku berniat menggunakan warna coklat yang masih tersisa ini untuk warna tanah di pinggir Sungai Serayu. Aaaahhhh, tidak apa-apa, warnanya akan kukombinasikan dengan warna lain. Bukankah warna tanah tidak melulu berwarna coklat?” pikir Aira.

“Baiklah, Dina. Ini pakai saja warna coklat milikku. Aku masih memiliki warna lainnya.” Kata Aira sembari menyerahkan cat air warna coklat pada Dina.

“Terima kasih banyak Aira, sahabatku.” Balas Dina.

Aira kembali melukis pemandangan di pinggir Sungai Serayu dengan hati-hati dan penuh keuletan. Setiap warna tergores indah pada kanvas miliknya. Bahkan ia juga melukis jembatan kereta api dengan sangat apik.

Tak terasa dua jam telah berlalu, ia telah selesai melukis. Tak lupa ia menuliskan inisial namanya di kanvas itu. Inisial “AA” begitu cantik di pojok kanvasnya.

Aira dan teman-temannya yang lain menunggu pengumuman. Dia senang dapat menyalurkan bakatnya dan ingin karyanya bisa dinikmati oleh orang banyak.

Beberapa saat kemudian, hasil perlombaan melukis diumumkan. Suara ketua panitia terdengar sangat jelas melalui pengeras suara. Mereka mengumumkan dari peringkat terbawah. Hingga pada peringkat kedua, nama-nama murid di sekolah Aira tak kunjung disebutkan. Semua murid di sekolah Aira mulai tidak bersemangat. Hanya tinggal satu peringkat yaitu peringkat pertama. Apakah mungkin salah satu murid dari sekolah Aira menjadi juara pertama?

“Daaaaaaaaannnnn…. yang menjadi juara I lomba melukis dengan tema keindahan alam di lingkungan sekitar kita adalaahhhhh…. AIRA ANASTASYA… siswi kelas 5 dari SDN 1 Serayu. Juara I berhak mendapatkan piala kejuaraan, piagam, dan uang tunai senilai Rp 2.500.000, 00. Selamat untuk para pemenang!!! Untuk para juara dimohon naik ke panggung untuk menerima hadiah.” Kata ketua panitia.

Pengumuman itu begitu mengejutkan hati Aira. Dia hampir tidak percaya. Tanpa terasa, air mata bahagianya mulai membasahi pipi. Dengan penuh semangat, dia naik ke panggung untuk menerima hadiah.

“Ibu, ayah, ini hadiah yang bisa Aira persembahkan untuk ibu dan ayah. Aira hanya bisa mengenal sosok ibu dan ayah dari cerita orang-orang. Tapi percayalah bahwa doa Aira tidak akan pernah putus untuk ibu dan ayah. Pinggiran Sungai Serayu yang menjadi tempat kesayanganmu, ibu. Semoga akan selalu indah sampai kapanpun. Semoga indahnya tak kan pudar walau waktu berlalu. Ibu, ayah… berbahagialah… Aira juga akan selalu berusaha menjadi yang terbaik bagi kalian. Bagi kakek dan nenek juga.” Ucap Aira dalam hati.

Teman-temannya bersorak bahagia dan memberikan selamat pada Aira. 

Demikian cerpen berjudul Gadis Sungai Serayu yang ditulis Opsi Rizky Andaru. Semoga cerpen  Gadis Sungai Serayu dapat memberi inspirasi dan manfaat untuk sahabat semua.

Mari berbagi ilmu, mari berbagi manfaat.

3 pemikiran pada “Gadis Sungai Serayu”

Tinggalkan komentar