My Mom is Super Chef

dianwicaksono

Penulis: Opsi Rizky Andaru

Dian Wicaksono – My Mom is Super Chef. Apakah kalian punya menu favorit buatan ibu? Hhhmmm, walaupun menu sederhana, pasti rasanya akan selalu dirindukan. Ada resep cinta yang ibu berikan di setiap masakannya. Luna punya kisah menarik tentang masakan ibunya. Yukk, baca bersama… Setelah ini, kira-kira ibu sedang masak apa ya?

Hai, kenalkan namaku Luna, Laluna Wijaya. Hari ini sangat membahagiakan bagiku. Aku dan teman-teman resmi dinyatakan lulus sekolah dasar. Keren bukan? Walaupun orang nyinyir bilang, kami yang lulus saat ini masuk kategori lulusan Corona. Begitulah yang biasa aku dengar dari beberapa orang dewasa. Benar-benar kekanak-kanakan sekali mereka. Apa salahnya lulus sekolah di masa Pandemi Covid 19?

Baiklah, kembali ke aku…

Aku dan 3 temanku yang lain sedang menikmati kebersamaan. Tenang saja kawan, kami tidak ke mana-mana. Masker tetap menempel cantik di muka. Duduk pun jaga jarak (tidak seperti di angkot), yang utama selalu jaga kebersihan diri dan lingkungan. Siang ini, kami berempat menunggu makanan unik yang kami pesan melalui aplikasi online.

Canda dan tawa mengiringi kebersamaan kami. Lolita tak henti-hentinya berceloteh dan menceritakan hal lucu. Mengenang masa-masa di sekolah memang menyenangkan.

Kami berempat sedang duduk manis di rumah Yumna. Menunggu memang menyebalkan, apalagi perut lapar seolah tak mau kompromi. Selain bercerita, kami hanya bisa duduk di gasebo rumah Yumna.

Merayakan kelulusan sepertinya hal yang umum dilakukan beberapa orang. Aku, Lolita, Yumna, dan Bella berencana memesan makanan unik dengan cara patungan. Masing-masing akan dapat giliran untuk mentraktir. Giliran pertama jatuh pada Yumna. Yumna sudah memesan Pizza yang panjangnya 1 meter. Ini asli, alias tidak pakai bohong! Harganya dua ratus ribu rupiah, jelas tidak murah, menurutku.

Setelah 30 menit kami menunggu, akhirnya datanglah yang ditunggu-tunggu, Si Pizza 1 Meter. Kami bersorak kegirangan terutama Bella yang begitu penasaran dengan pizza itu.

“Horeeeeee!!!!! Akhirnya ketemu juga sama pizza semeter!!” teriak Bella penuh semangat.

My Mom is Super Chef

Yumna membuka wadah pizza dan benar saja, pemandangan indah terpampang nyata di depan kami. Aromanya menguar begitu menggiurkan. Jujur saja, aku baru pertama kali makan pizza. Yumna yang baik hati memberikan potongan pertama padaku. Aku benar-benar terharu. Kulihat lirikan Bela setajam silet saat aku diberi pizza oleh Yumna. Ah, aku tak peduli, yang penting aku bisa mencicipi pizza itu dengan hati gembira.

“Yumnaaaa, kok Luna dulu yang kamu kasih pizzanya, aku juga mau,” rengek Bella.

“iya, iyaaaaa…. Ini aku potongkan 1 buatmu!” Yumna segera memberikan potongan kedua untuk Bella agar tidak ngambek. Yumna memang teman yang super sabar dan baik hati. Dia seperti peri baik hati yang selalu bisa menenangkan suasana.

Diam-diam Lolita sudah makan 2 potong pizza dengan lahap.

“Yummmmiiiiiiyyyyy….” seloroh Lolita sambil tersenyum manis.

Tak butuh waktu lama untuk kami menghabiskan pizza 1 meter itu. Kami kenyang, tapi tidak terlalu. Kami kan sedang dalam masa pertumbuhan. Hehehe…..

Pizza itu habis dan hanya meninggalkan bungkus kardus yang teronggok di tempat sampah milik Yumna.

Setelah ini kami akan pesan berbagai jenis makanan korea yang sedang hits. Ini idenya Lolita karena kebetulan Lolita lah yang akan mentraktir kami semua. Lolita begitu sibuk membuka aplikasi Go Go untuk memilih beberapa menu. Berbagai jenis makanan ala Korea dia pilih dengan lihai. Mungkin makanan itu sering Lolita makan. Saat aku baca menu yang Lolita pesan, rasanya aku hanya bisa mengerutkan dahi. Ada Tteokbokki (Kue Beras Pedas), Kimchi Sujebi (Sup Pangsit), Japchae (Bihun ala Korea), Tokebi (Hot Dog Kentang), Patbingsoo (Es Serut Korea), Kimbap (Nasi Gulung Korea), Maeun Dakbal (Ceker Pedas ala Korea), dan yang terakhir adalah Kimchi Jeon (Pancake ala Korea). Aku sampai pusing membacanya.

Kali ini jauh lebih mengejutkan karena harga semua makanan itu lebih dari Rp. 300.000,00. Bukannya kaget atau takut tidak bisa membayar, Lolita terlihat tersenyum lebar. Mungkin dia sudah membayangkan semua makanan itu datang.

“Lol, apa tidak sayang uang segitu kamu pakai semua untuk pesan makanan ala Korea?” aku memberanikan diri bertanya pada Lolita.

“Tenang saja girls, ini kan nggak buat tiap hari. Kita kan sedang merayakan kelulusan” jawab Lolita enteng.

Baiklah kalau begitu, aku akan mencoba ikut menikmati saja. Mungkin benar kata Lolita, ini kan tidak setiap hari.

Beberapa saat kemudian kami menikmati makanan ala Korea yang sebagian besar pedas. Aku berdoa agar tidak terjadi gangguan pencernaan. Dasar Lolita, dia terlihat biasa saja menikmati makanan pedas berwarna merah terang.

Dua sesi makanan berat sudah kami lalui dengan aman, tenteram, dan damai. Tanpa ada keluhan dari siapa pun bahkan kami masih selalu bercanda sambil menikmati menu hari ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Bella punya ide brilian untuk memesan beberapa puding dan es krim. Saat cuaca panas seperti ini, es krim adalah solusi tepat mendinginkan suasana. Es krim yang Bella pesan tidak seperti yang dibeli di warung. Kami kembali melihat-lihat menu di aplikasi Go Go. Benar saja berbeda, Bella memesannya di gerai khusus es krim yang rasanya pasti dijamin enak.

Tak menunggu lama, pesanan Bella sudah sampai. Es krim meleleh sempurna dan rasa manisnya tak mungkin terlupa. Pudingnya juga kenyal dipadukan buah asli yang segar. Bella memang pintar memilih makanan enak.

Saat ini kami merasa sangat kekenyangan. Ditraktir oleh 3 sahabat membuatku mulai berpikir keras. Aku harus mentraktir mereka apa?

Girls, aku udah kenyang nih. Kita lanjutin makan-makan besok aja yuk? Tinggal Luna yang belum traktir kita. Bagaimana Lun, kamu setuju kan?” tanya Lolita.

“Setujuuuuuu!” Bella menimpali penuh semangat.

“Bagaimana Lun, kamu setuju?” tanya Yumna sekali lagi.

“Baiklah, besok kasih kabar lagi ya,” jawabku akhirnya.

Kami bertiga berpamitan pada ibu Yumna dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.

Di sepanjang perjalanan, aku terus berpikir, apa yang bisa aku beli untuk mentraktir mereka? Aku tidak punya uang sebanyak mereka. Jangankan untuk mentraktir, uang jajan saja paling-paling hanya bisa untuk membeli sedikit jajan di sekolah. Ah, sudahlah, akan aku pikirkan nanti kalau sudah di rumah.

Kulangkahkan kaki yang terasa berat. Rumah kami berempat hanya berhadap-hadapan. Cukup beberapa langkah saja maka aku sudah sampai di rumah. Kuhembuskan napas seolah-olah dunia runtuh.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam, Luna, bagaimana acara makan-makannya di rumah Yumna? Apakah Luna senang?” tanya ibu ketika aku memasuki rumah.

“Senang juga sedih bu,” jawabku sekenanya.

“Kok senang juga sedih sih? Memangnya kenapa, Lun”

Ibu mulai penasaran dengan apa yang aku alami hari ini. Hhhmmmmm… aku memang tidak bisa menyembunyikan perasaan.

“Ibu, bolehkah Luna meminta uang Rp. 300.000,00 untuk mentraktir teman-teman besok? Hari ini Yumna, Lolita, dan Bella sudah mentraktir Luna makanan-makanan yang enak sekali, bu. Luna baru pernah menikmatinya hari ini. Besok giliran Luna mentraktir mereka. Luna malu bu, kalau Luna tidak bisa mentraktir mereka makan,” akhirnya kuberanikan diri bercerita dengan ibu.

“Luna sayang, ibu tidak punya uang sebanyak itu. Sepertinya sayang sekali jika hanya untuk membelikan makanan yang kalian pesan. Uang sebanyak itu biasa ibu belanjakan untuk 6 hari, anak,” Ibu terlihat sedih menjelaskannya padaku. Tapi aku jauh lebih sedih dan kecewa.

“Hiks… hiks… hiks… Ibu kok pelit? Luna kan hanya meminta uang untuk mentraktir teman-teman Luna. Luna malu bu, Luna malu kalau tidak bisa mentraktir teman-teman besok!”

Aku tidak sanggup menangis di hadapan ibu. Segera aku langkahkan kaki secepat mungkin menuju kamar. Bagaimana dengan ekspresi ibu? Entahlah, aku belum sempat melihatnya.

Aku terus mengurung diri di kamar hingga terdengar suara motor ayah di depan rumah. Sayup-sayup terdengar ayah sedang bercerita dengan ibu. Aku mencoba cuek dan tidak mempedulikannya.

“Tok.. tok… tok…”

Terdengar suara ketukan pintu, mungkin ayah mencoba menenangkanku. Aku yakin ayah tidak akan marah karena ayah dan ibuku sangat lembut menghadapiku.

“Luna, yuk kita makan malam bersama. Ayah tidak ingin kamu sakit dengan mengurung diri di kamar seperti itu. Apalagi kalau kamu menangis, aaahhhh… kecantikan Luna akan berkurang segini (ayah menunjukkan kuku di telunjuknya),” ajak ayah

Jujur saja aku tidak ingin seperti ini. Aku tidak tega menyakiti kedua orang tuaku. Tapi apa daya, aku juga tidak ingin teman-temanku kecewa. Aku tidak ingin mempermalukan diri di depan teman-teman. Terpaksa kupenuhi permintaan ayah untuk makan malam bersama.

“Baiklah ayah.”

Aku melangkah gontai menuju meja makan. Sudah tersedia lauk sederhana buatan ibuku. Sangat sederhana sehingga kadang-kadang dengan teganya aku membandingkan dengan makanan yang ada di restoran.

Setelah kami makan malam, ayah mengajak kami ngobrol di ruang TV.

“Luna, ayah dengar dari ibu, apakah benar kalau Luna meminta uang Rp. 300.000,00 untuk mentraktir teman-teman Luna besok?” tanya ayah.

“Iya ayah,” jawabku takut-takut.

“Ayah harap, Luna tidak marah dan mau menyimak cerita ayah dengan baik. Oh ya, sebelumnya ayah ucapkan selamat atas kelulusanmu, ya nak… Semoga Luna dapat menjadi orang yang sukses dan selalu semangat menggapai cita-cita,” kata ayah sambil mencium keningku.

“Sama-sama ayah, Luna akan menjadi anak yang baik dan membanggakan ayah dan ibu”

Perhatian ayah dan ibu sangatlah berharga bagiku.

“Luna, ayah tahu jika Luna, Yumna, Lolita, dan Bella bersahabat dari kalian kecil. Kalian bersahabat hingga seperti saudara. Luna tidak usah bingung akan mentraktir teman-teman. Luna sendiri kan tahu kalau ibu sangat pandai memasak. Masakan ibu tak kalah dengan masakan di restoran looohhh… Bagaimana kalau Luna ajak teman-teman makan di rumah?” usul ayah boleh juga, tapi aku masih belum yakin.

“Tapi ayah, apa mereka akan suka dengan masakan ibu?” tanyaku penuh ragu.

“Luna tenang saja, ibu akan membuat makanan yang terenak. Percayalah dengan ibu ya sayang,” jawab ibu sambil mengelus rambutku. Waaaahhh … Jika diperlakukan seperti ini jelas saja aku langsung luluh…

“Luna, sahabat itu akan menerima apapun keadaan kita. Susah ataupun senang dirasakan bersama-sama termasuk saat menikmati makanan bersama. Meskipun tidak enak, jika dinikmati dengan hati yang gembira pasti rasanya akan terasa luar biasa. Ayah doakan semoga persahabatan kalian akan terus berlanjut sampai kalian tua. Seperti ayah. Kamu kenal dengan Pak Broto yang anggota DPRD itu? Meskipun beliau sudah menjadi pejabat, tapi beliau tak pernah sungkan bertamu di rumah kita, bukan? Dulu waktu masih muda, kami selalu berbagi makanan meskipun hanya singkong goreng. Luna mengerti maksud ayah?”

“Baiklah ayah, lalu kira-kira menu apa yang cocok untuk ibu masak besok ya?”

“Bagaimana kalau besok ibu memasak sayur lodeh, tempe goreng, sambal, ikan asin, dan jus jambu merah? Kebetulan jambu merah di halaman rumah kita banyak yang sudah matang,” usul ibu penuh semangat.

“Waahhh, boleh juga bu.”

Segera kuberi kabar ketiga temanku agar mereka makan siang bersama di rumah. Mereka setuju dan bersepakat akan datang ke rumahku jam 11 siang. Semoga saja teman-temanku suka dengan masakan ibuku.

Hari Minggu yang cerah kuawali dengan membantu ibu memasak. Ibuku sangat lihai dalam meracik makanan. Bumbu telah disiapkan, sayuran telah dipotong sesuai ukuran yang pas, tak lupa buah jambu sudah disiapkan untuk dibuat jus. Satu persatu bahan makanan sudah mulai dimasak. Aromanya menggelitik hidungku. Dari aromanya saja sudah bisa terbayang betapa enak masakan ibu.

Tak terasa jarum jam telah menunjukkan pukul 11.00. Yumna, Lolita, dan Bella sudah sampai di rumahku. Mereka mulai berisik dengan berbagai celotehan mereka. Aku hanya tersenyum memandang wajah mereka yang ceria.

“Assalamu’alaikum,” mereka bertiga mengucapkan salam bersama-sama.

“Wa’alaikumsalam,” jawabku penuh semangat. Segera kupersilakan mereka semua ke dalam rumah dan langsung menuju teras belakang. Selain sejuk, di teras belakang ukurannya luas untuk kami semua menikmati makan siang.

“Aku tidak sabar menikmati masakan ibumu, Lun. Pasti enak sekali. Dari depan rumahmu saja aromanya sudah tercium,” kata Yumna sambil tersenyum.

Aku tidak menjawabnya, hanya senyuman yang bisa kupamerkan di depan Yumna.

Saat ini kami sudah berada di teras belakang rumah. Semua makanan telah tersaji. Penyajiannya begitu apik dan bersih. Ibuku memang sangat senang menjaga kebersihan apalagi berkaitan dengan makanan.

“Lol, apa kita hanya akan makan ini? Apa enak ya? Kok terlihat begitu sederhana dan terkesan murah?” bisik Bella pada Lolita. Walaupun mereka hanya bisik-bisik, aku masih bisa mendengarkan dengan baik. Jujur saja hatiku terasa agak sakit tapi akan kubuktikan bahwa masakan ibuku itu terenak di dunia.

“Girls, kuperkenalkan masakan ibuku hari ini ya. Aku harap kalian suka dan akan selalu merindukan masakan ibuku. Ada sayur lodeh, ikan asin yang digoreng, tempe goreng, sambal, petai bakar, dan minumnya jus jambu yang aku petik di halaman rumah. Yuuukkk, kita mulai makan bersama,” jelasku pada Yumna, Lolita, dan Bella sambil menunjuk makanan yang ada di depan kami.

Yumna dan Lolita nampak antusias mengambil berbagai menu yang ada di hadapan mereka. Sangat berbeda dengan Bella yang sedikit ragu mengambil makanan di depannya. Aku membantu Bella mengambil makanan dengan porsi yang pas. Kuyakinkan Bella bahwa masakan ibu tidak akan mengecewakan. Kami mulai berdoa dan menikmati masakan ibu. Kulihat Bella memasukkan suapan pertama ke mulutnya. Bella makan tanpa ekspresi. Bella mulai memasukkan suapan kedua. Aku sangat terkejut dengan tanggapan Bella.

“Wooooowwwww…. kenapa rasanya gurih dan segar sekali. Sayur lodeh ibumu enak, Lun. Apalagi kalau dicampur ikan asin dan sambal. Wwwwuuuuiiiiiihhhh…. Lezat sekalii… tadi sempat kunikmati pada suapan pertama. Sekarang akan aku coba pakai petai bakar,” celoteh Bella penuh antusias.

“Hhheemmmmm… tadi awalnya kamu ragu kan?” kata Lolita yang mencoba mengingat tingkah Bella.

“Hehehehee…” Bella hanya mampu cengengesan tanpa bisa berkata apapun.

“Sudah… sudah… Yuuuukkk kita nikmati masakan ibunya Luna. Ibunya Luna memang is the best,” Yumna mencoba menengahi Lolita dan Bella.

Alhamdulillah, mereka menyukai masakan ibuku.

Setelah makan bersama, kami berbagi cerita di teras belakang rumahku. Aku sangat bahagia memiliki sahabat yang menerimaku apa adanya. Mereka memuji masakan ibuku dengan ikhlas. Masakan yang ibu sajikan telah habis tak bersisa, itu tandanya mereka menghargai jerih payah ibu menyiapkan masakan.

“Bagaimana Lun, apakah teman-temanmu senang dengan masakan ibu hari ini?” tanya ayah saat aku membantu ibu membereskan cucian piring.

“Mereka sangat suka ayah, masakan ibu sangat enak. Aku yakin mereka baru pertama kali memakannya. Terima kasih ayah, sudah menasihati Luna sehingga Luna tidak egois. Luna semakin menyayangi ibu karena masakan ibu….”

“Terenak di dunia, alam semesta, jagat raya, penuuuuuh cintaaaa….” aku dan ayah kompak berucap slogan keluarga kami. Ibu tersipu malu dan pipinya terlihat merah merona

Aku segera memeluk ibuku.

“Ibu memang yang terhebat. Masakan ibu tiada duanya. My Mom is Super Chef!!!!” Kupeluk ibu dengan penuh cinta dan tak lupa kucium pipinya bertubi-tubi.

Demikianlah kisah Luna yang memiliki super chef di rumahnya. Kesederhanaan yang pantas Luna syukuri…

Mari berbagi Ilmu, mari berbagi manfaat.

Tinggalkan komentar